THE DAY AFTER TOMORROW


                                                               


Di terima bekerja di sebuah perusahaan umumnya merupakan sebuah kebahagiaan bagi orang-orang yang baru saja lulus dari kuliah. Bagitu pula saya, setelah sekita 8 bulan menganggur dan bergelut dalam mencari pekerjaan, akhirnya pun saya mendapatkannya. Ditambah lagi perusahaan yang baru saja menerima saya adalah salah satu perusahaan yang saya idamkan selama ini, dan diposisi yang saya inginkan pula, “i think it will be good chance to get experience” . Namun setelah berapa bulan, akhirnya saya pun merasakan kebosanan, dan berpikir “apakah saya akan hidup seperti ini selamanya?”, ya memang tujuan saya bekerja adalah untuk mencari pengalaman, ilmu dan meningkatkan relasi saya. Hal-hal menyangkut kebosanan dan muncul pemikiran bosan dalam diri saya bukanlah datang secara simultan. Mereka datang dipicu kondisi saya bekerja dan senior yang saya hadapi, ya sedikit mengesalkan, ditambah pula saya mendapati kabar bahwa banyak dari teman saya yang sudah mulai melangkah mulai dari membangun usaha, S2 di luar negeri, diterima di Kementrian (merupakan sebuah kebanggan luar biasa bagi seorang batak yang bekerja sebagai babu pemerintah). Hal yang terniang lagi di kepala saya adalah, kapan saya akan membangun usaha, kapan saya melanjutkan pendidikan, kapan saya menikah, jawabannya masih sangat jauh. Usia saya sudah menginjak 23 tahun, apakah saya akan mampu menyelesaikan semua harapan saya?. Saya pun mulai mendapati keraguan, apakah yang saya lakukan saat ini merupakan langkah yang benar?. Semua pertanyaan-pertanyaan itu diajukan oleh orang-orang yang saya sebut si gila dan si normal yang berada di kepala saya. Seperti biasa si gila dengan idealismenya, dan si normal dengan realistisnya. Saya merasa berada dikondisi yang kurang baik, karena semakin hari kedua orang ini terus meningkatkan raungan pertanyaannya.
Akhir-akhir ini ada 2 orang teman yang nge-chat saya via WA dan keduanya memiliki kasus yang sama yaitu masa depan. Yang 1 merupakan salah seorang teman saya berinisial D, memiliki pertanyaan dalam dirinya bagaimana ia akan membangun dirinya kelak. Si D merupakan seorang HRD di salah satu perusahan di kota Medan, yang pemikirannya sudah sampai bagaiman korelasi kelak antara karirnya dan hubungannya dengan suaminya, ea wkwk, padahal belum nikah, masih juga brantem udh sampai kesana pemikirannya. Menurut si D dia ragu untuk meniti karir setinggi-tingginya, kekhawatirannya adalah Suaminya kelak akan beradu gengsi dengannya jika ia memiliki pekerjaan yang lebih baik dari calon suaminya, diapun bertanya opini saya, jelas saya tidak bisa menjawab, jujur pemikiran saya belum sejauh itu, tapi menurut saya jika anda ingin menikah kenali siapa yang anda akan ajak dan buang semua sifat gengsi anda. Mari beralih ke teman saya satu lagi berinisial V, ini bukan sekedar teman haha, sempat muncul perasaan namun ada ketidakcocokan, namun saya lebih memilih berdamai, tidak seperti kebanyakan orang ketika perasaan mereka gagal maka mereka akan meracau kesana-sini dan diam-diaman seperti tidak kenal alias Cold war. Si V sedang menjalani training dan sebentar lagi akan berangkat ke Jepang untuk bekerja disana, dia merasa rendah dibanding teman-temannya, dia merasa khawatir akan masa depannya sebab dia sudah ketinggalan langkah dibanding teman yang lain (fuck you, i think you have nothing to worry about, you will do a great step idiot! Hahaha), ya saya jujur memang dia telat dibanding yang lain dalam membangun karir mirip lah sama saya, sebab dia baru saja ingin memulai pekerjaan sementara teman yang lain sudah bekerja. Hingga saya simpulkan bahwa dia khawatir akan masa depannya akan tidak lebih baik dari teman-temannya. Saya rasa hidup bukanlah sebuah balapan, dan saya rasa tidak perlu untuk menjelaskan ini karena sudah banyak sekali quotes mengenai ini. Ya semuanya memiliki waktu masing-masing, Prabowo saja kalah 2 kali dalam capres masih terus mencoba peruntungannya haha, dan yang paling umum lagi jika anda bandingkan Obama dan Trump merupakan contoh bahwa semuanya akan baik pada waktunya, kalau saya tidak salah Obama di umur sekita 50an sudah menjadi presiden, sementara Trump baru menjadi presiden di usia 60 tahun, saya rasa itu sudah cukup menjelaskan bahwa kita memiliki waktu masing-masing.
Hal yang terniang untuk saya saat ini adalah setiap orang selalu khawatir akan masa depannya dengan tolak ukur apa yang terjadi saat ini, tidak ada yang mengetahui kapan kita akan menerima reward dari segala usaha kita. Jika anda merasa saat ini belum baik, maka manfaatkanlah hal itu untuk membangun diri anda, sehingga kelak dimasa depan anda siap dalam mengelola reward yang anda terima, dan percayalah kelak anda akan sadar bahwa apa yang anda lakukan hari ini adalah benar. Everythin is ok in the end, if it’s not ok, then it’s not the end and Someday you will realize that what have you done today was right.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HEAD ABOVE WATER