SEPAKBOLA KU SAYANG
Mafia (Ma.fia), menurut
KBBI diartika sebagai perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan
(kriminal). Pada abad
pertengahan perkumpulan ini
umumnya bergerak dalam perlindungan illegal, pengorganisasian kejahatan berupa
kesepakatan dan transaksi secara ilegal, abritase perselisihan antar kriminal,
dan penegakan hukum sendiri. Organisasi ini kerap kali terlibat dalam kegitan
per
Akhir-akhir ini Indonesia sedang marak membahas tentang mafia, pada
bidang sepakbola khususnya dan mengerucut pada judi sepakbola yang
mengakibatkan match fixing (pengaturan skor). Maraknya pembahasan hal tersebut
dipicu oleh diskusi-diskusi terbuka yang diadakan oleh media massa yang awalnya
bertujuan untuk mengoreksi manajemen PSSI hingga muncul suatu bahasan bahwa
banyaknya mafia dan bandar judi yang terlibat dalam sepakbola Indonesia. Namun
sepertinya banyak masyarakat Indonesia yang baru memahami bahwa sepakbola
sangat terikat dengan perjudian. Saya merupakan seorang bet player, saya pernah
berbicara dengan salah seorang teman saya asal Jakarta, pada situasi tersebut
dia melihat saya sedang melakukan observasi pertandingan melalui salah satu
situs judi, dan muncul percakapan seperti berikut :
NN : Lo sering nge-bet bro?
Saya : yah, kadang-kadang bro ngisi waktu kosong
NN : Kalo lo ada modal biar gue
kenalin sama kenalan gue, dia bandarnya liga 2 (pada saat itu liga 2 merupakan
liga kelas umur di Indonesia tahun 2013)
Saya : ah nggak bro gue mah modal kecil-kecilan, iseng-iseng doang
NN : yah siapa tau lo mau jadi profesional bro, modal 20jt aja ntar udh
dibuka semua hasil pertandingannya.
Demikianlah percakapan saya pada saat itu. Pertaruhan atau judi dalam
sepakbola memang berpotensi berdampak dalam pengaturan skor, secara dalam
pertaruhan siapa yang mau kalah/rugi ?. Para bandar judi yang biasanya
melepaskan kepada para player untuk memilih siapa yang akan mereka pasang dan
bandar akan memegang lawannya, sederhananya :
A vs B
Jika player ingin bet di A, maka bandar akan bet B. Sebaliknya jika
player bet B maka bandar bet A.
selanjutnya bandar akan mengkalkulasikan profit dan dapat dilihat tim
mana yang akan lebih profit jika di menangkan, nah berdasarkan hal tersebutlah
para mafia ini memesan kepada operator pertandingan bagaimana hasil
pertandingan yang diinginkan. Mungkin sederhananya seperti ini :
A vs B
Jumlah total taruhan A (win) = Rp. 50.000
Jumlah total taruhan B (win) = Rp. 80.000
Jika tim B menang, maka bandar akan -80.000, dan +50.000
Namun jika tim A menang , bandar akan + 80.000, dan -50.000
Dalam kondisi ini mafia akan lebih profit jika A (win), maka mafia akan
memesan agar tim A dibantu untuk menang. Masih banyak variasi taruhan lainnya,
seperti first goal, Poor system, Half
time, Total Goal, Kick Off, Total Corner, dll. Coba bayangkan berapa profit
yang diterima oleh bandar judi jika dia mampu men-setting seluruh role dalam
sebuah pertandingan.
Namun mafia sepakbola, match fixing bukan sekedar judi/bandar judi.
Seorang pemilik/internal klub pun, mampu melakukan match fixing dengan motivasi untuk meningkatkan dan
menjaga pamor tim dan pendapatan murni dari tim. Namun dalam hal ini jauh lebih
rumit, karena tidak berlangsung di setiap pertandingan, hanya di laga-laga
penentu saja, misalnya mendekati akhir liga, tim yang mendekati/ paling
berpeluang juara pun bisa memesan hasil, dan juga tim yang menghindari
degradasi. Mengapa demikian? Jelas bukan hanya masalah pamor tim saja,
pendapatan sebuah klub akan meningkat drastis apabila dia juara, selain itu dia
akan berpeluang untuk mengikuti kompetisi tingkat benua seperti AFC champions
league, dan AFC Cup, yang setahu saya tiap klub yang mengikuti kompetisi ini
mendapatkan biaya pembinaan di setiap pertandingannya, dan cukup tinggi. Begitu
pula tim yang akan mendekati degradasi, jelas mereka tidak ingin, secara biaya
pembinaan yang didapatkan dari liga akan menurun, baik pendapatan sponsor, penjualan tiket
pertandingan akan otomatis menurun. Hal-hal
diatas masih dalam konteks liga Indonesia, jika tim-tim sekelas Eropa akan
lebih kompleks lagi, mulai dari harga saham di bursa, penjualan jersey, hak
siar, memiliki nilai profit yang sangat tinggi.
Selain itu, Mafia sepakbola tidak hanya dalam hal match fixing. Seleksi
pemain yang dilakukan mulai dari usia muda sampai klub profesional tidaklah
murni seleksi. Banyak pemain berbakat yang terpaksa digugurkan dalam seleksi
karena tidak memiliki agensi yang kuat di federasi. Sementara untuk masuk dalam
sebuah agensi tidak hanya masalah bakat, banyak orang-orang mampu secara
finansila yang dibantu oleh agensi agar diterima di sebuah klub dan dilatih
disana. Apakah anda percaya orang-orang
yang ada di Timnas Indonesia merupakan benar-benar pesepakbola terbaik di
negeri ini ?, silahkan anda jawab sendiri.
Sepakbola bukanlah hanya sekedar olahraga/ hobi di saat ini, sepakbola
merupakan Industri besar, dan setiap federasi seperti PSSI harus siap untuk
menyikapi perkembangan sepakbola saat ini. Mafia pun bukan hanya sekedar dalam
bentuk judi, penentuan seleksi pemain baik dari klub pembinaan sampai ke timnas
senior pun banyak di susupi oleh mafia sepakbola. Jelas kondisi Sepakbola
Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Saya pribadi mengakui kinerja PSSI di
saat ini cukup baik dalam penyelenggaraan kompetisi di usia muda, namun masih
banyak pekerjaan lainnya. Penyelenggaraan kompetisi perlu diawasi lagi, secara
PSSI dalam penyelenggaraan liga tidak sebagai penyelenggara, melainkan pengawas
saja, jadi menurut saya hal yang wajar namun aneh jika EXCO tidak mengetahui
adanya mafia dalam sepakbola Indonesia. Penyelenggaraan liga yang dilaksanakan
oleh PT. Liga Indonesia Bermartabat dan seluruh komponen-komponen pertandingan
harus lebih di awasi lagi. Indonesia harus siap dalam Industri Sepakbola
Modern, dan masyarakat harus mengawalnya.
Komentar
Posting Komentar