Keep Hopes Up High and Head Down Low
Sebuah kalimat yang bila diartikan berarti "Tetaplah bermimpi keatas dan kepala tunduk kebawah". Kalimat ini yang selalu menjadi pegangan saya ketika sedang terjatuh dan terpuruk. Karena bagi saya dengan tetap bermimpi, anda tidak akan kehilangan motivasi ataupun arah tujuan, melainkan membantu anda tetap mengejar mimpi anda dengan cara lain apabila cara yang sebelumnya telah gagal. Mungkin sedikit menyenggol kata-kata dari sang proklamator, "Bermimpilah setinggi langit, kalau sendainyapun kamu jatuh, kamu jatuh diantara bintang-bintang".
Kehidupan yang sulit, namun bisa dibilang saya yang menyulitkan diri saya sendiri. Idealisme didalam diri saya memang terlalu tinggi, namun saya bukanlah orang yang tidak realistis. Idealisme saya lah yang mengantarkan saya ke kondisi saat ini. Namun ya balik lagi ke petuah sang proklamator "Kemewahan terakhir seorang pemuda adalah idealisme nya". Namun akhir-akhir ini muncul sebuah perenungan di kepala saya, bahwa Idelisme saya terlalu membabi-buta. Bermimpi adalah sebuah kegiatan yang membawa kita kepada suatu tujuan dimasa depan, namun bagaimana mengejar mimpi tersebut adalah hal yang perlu dipikirkan. Dalam mengejar sebuah mimpi dengan pondasi pemikiran yang mutlak Idealis adalah jalan menuju kematian. Dalam mengejar mimpi ataupun tujuan tidak hanya diperlukan sebuah idealisme namun diperlukan relistisme, dan dibumbui usaha dan kesabaran untuk menempuh jalan. Jalan terdiri atas 2 jenis, yaitu jalan umum dan jalan tol. Untuk menempuh jalan umum jelas anda perlu menambahkan point usaha, niat yang teguh, dan kesabaran. Beruntung bagi orang yang mendapatkan jalan tol, perlu bagi seseorang untuk memahami dan menyadari jalan mana yang sedang dia tempuh, jelas manusia harus bersiap untuk keadaan terburuk sekalipun, tetap berusaha dan let God do the rest.
Dapat disimpulkan bahwa jalan menuju sebuah mimpi tidak hanya satu, bisa beribu, bisa cepat ataupun lambat, namun idealisme itu diposisikan untuk menjaga tujuan dan arah tersebut, realistisme untuk menerima segala kondisi dan bersiap untuk keadaan terburuk, sementara doa adalah musik dalam menempuh perjalanan tersebut.
Kehidupan yang sulit, namun bisa dibilang saya yang menyulitkan diri saya sendiri. Idealisme didalam diri saya memang terlalu tinggi, namun saya bukanlah orang yang tidak realistis. Idealisme saya lah yang mengantarkan saya ke kondisi saat ini. Namun ya balik lagi ke petuah sang proklamator "Kemewahan terakhir seorang pemuda adalah idealisme nya". Namun akhir-akhir ini muncul sebuah perenungan di kepala saya, bahwa Idelisme saya terlalu membabi-buta. Bermimpi adalah sebuah kegiatan yang membawa kita kepada suatu tujuan dimasa depan, namun bagaimana mengejar mimpi tersebut adalah hal yang perlu dipikirkan. Dalam mengejar sebuah mimpi dengan pondasi pemikiran yang mutlak Idealis adalah jalan menuju kematian. Dalam mengejar mimpi ataupun tujuan tidak hanya diperlukan sebuah idealisme namun diperlukan relistisme, dan dibumbui usaha dan kesabaran untuk menempuh jalan. Jalan terdiri atas 2 jenis, yaitu jalan umum dan jalan tol. Untuk menempuh jalan umum jelas anda perlu menambahkan point usaha, niat yang teguh, dan kesabaran. Beruntung bagi orang yang mendapatkan jalan tol, perlu bagi seseorang untuk memahami dan menyadari jalan mana yang sedang dia tempuh, jelas manusia harus bersiap untuk keadaan terburuk sekalipun, tetap berusaha dan let God do the rest.
Dapat disimpulkan bahwa jalan menuju sebuah mimpi tidak hanya satu, bisa beribu, bisa cepat ataupun lambat, namun idealisme itu diposisikan untuk menjaga tujuan dan arah tersebut, realistisme untuk menerima segala kondisi dan bersiap untuk keadaan terburuk, sementara doa adalah musik dalam menempuh perjalanan tersebut.
Komentar
Posting Komentar